Kamis, 15 September 2011

Mengenal Anis Merah


Anis Merah tidak hanya dapat ditemukan di Indonesia, tetapi juga di banyak negara lain, seperti Bangladesh, Bhutan, Cambodia, China, India, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, SriLanka, Thailand, dan Vietnam. Jumlah Anis Merah di seluruh tempat hidupnya diperkirakan tidak mengalami penurunan lebih dari 30% dalam 10 tahun terakhir, sehingga salah satu lembaga pelestari burung internasional (Birdlife international) masih merekomendasikan burung ini dicatat dengan status belum terancam punah (Least Concern) pada daftar burung-burung terancam punah di seluruh dunia (IUCN Red List) tahun 2008.
Meski demikian, jumlah Anis Merah di Jawa diperkirakan telah menurun dengan sangat tajam akibat maraknya penjaringan burung untuk dijual sebagai burung peliharaan (http://www.reference.com/browse/all/Orange-headed). Sementara itu di seluruh daratan asia tenggara jumlahnya dikhawatirkan akan terus menurun akibat semakin sedikitnya daerah berpohon.
Secara internasional, Anis Merah pertama kali dideskripsikan atau diberi nama ilmiah oleh John Latham pada tahun 1790 dengan nama Turdus citrinus. Perbedaan kenampakan Anis Merah yang terdapat di berbagai tempat membuat para ahli burung membedakan jenis ini menjadi beberapa ras, namun Rasmussen dan Anderton (2005) menyatakan bahwa terdapat kemungkinan adanya beberapa jenis dalam 12 ras (Box 1. Ras-ras Anis Merah di seluruh dunia) yang ada saat ini.
Peta penyebaran anis merah. (Kiriman Yayasan Kutilang)
Di Indonesia, Anis Merah terdapat di Sumatra, Kalimantan, Jawa, dan Bali. Di sumatra diperkirakan merupakan pendatang (migran) dari daratan asia dan kemungkinan terdapat dua ras yaitu ras Zoothera citrina innotata dan ras Zoothera citrina gibsonhilli . Di Kalimantan bagian utara merupakan burung penetap di daerah pegunungan, antara 1000 – 1500 meter diatas permukaan laut dan hanya diketahui dari sedikit catatan di G.Kinabalu dan Trus Madi yang merupakan ras Zoothera citrina aurata. Di Jawa dan bali dapat ditemukan sampai ketinggian 1500 meter diatas permukaan laut. Ras yang terdapat di Jawa bagian barat adalah Zoothera citrina rubecula dan yang ada di jawa bagian timur dan Bali adalah Zoothera citrina orientis. Kedua ras ini hanya dibedakan dari panjang sayapnya. Penamaan ras Zoothera citrina rubecula dilakukan oleh Gould pada tahun 1836, sementara itu nama ras Zoothera citrina orientis diberikan oleh Bartels, Jr. pada tahun 1938. Beberapa ahli burung meragukan perbedaan ras Anis Merah yang terdapat di jawa bagian barat dengan jawa bagian timur dan bali ini.
Anis Merah mencari makan di atas tanah dengan tanaman bawah pohon yang rapat. Sangat aktif mencari makan di bawah bayang-bayang sinar matahari dengan membongkar-bongkar seresah dedaunan untuk mencari serangga, laba-laba, cacing dan buah-buahan yang telah jatuh di tanah. Di Malaysia, Anis Merah sering teramati memakan buah beringin.
Sarang Anis Merah berbentuk seperti mangkuk yang dangkal dan tersusun dari akar pohon, daun, dan seresah. Kedua induk aktif membangun sarang yang seringkali dibangun pada ketinggian lebih dari 4,5 meter dan diletakkan pada pohon kecil atau semak. Telur sebanyak dua sampai empat, seringkali tiga, dierami selama 13-14 hari sampai menetas. Setelah menetas, anak dirawat sekitar 12 hari sampai dapat keluar dari sarang. (http://www.reference.com/browse/all/Orange-headed). Terry Gonsolvis (seorang penangkar di Bristol, Inggris) telah berhasil menangkarkan Anis Merah dari ras Zoothera citrina cyanotus. Arkun (seorang penangkar di Depok, Bogor) telah berhasil menangkarkan Anis Merah dengan menitipkan telurnya pada burung Anis Kembang (http://www.kicaumania.org/).
Anis Merah di Bali
Saat ini Anis Merah merupakan salah satu jenis burung yang paling banyak di pelihara oleh masyarakat di Indonesia. Menurut hasil penelitian tim peneliti dari BURUNG INDONESIA, Anis Merah menempati urutan ketiga dari jenis-jenis burung yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Denpasar (tabel.1). Penelitian ini dilakukan pada tahun 2006 melalui wawancara terhadap 1781 keluarga.
Popularitas Anis Merah sebagai burung peliharaan tidak lepas dari maraknya lomba burung berkicau yang saat ini diselenggarakan minimal setiap satu bulan sekali dan latihan bersama (latber) yang diselenggarakan minimal setiap satu minggu sekali di setiap kota. Selain volume, variasi, dan irama suara, perilaku “teler” merupakan salah satu faktor utama yang dinilai dalam lomba burung.
Persebaran dan tempat hidup
Secara administratif, berdasarkan informasi dari berbagai sumber, survey cepat dan wawancara tidak terstruktur yang dilakukan selama 10 hari berkeliling Bali, Anis Merah dapat ditemukan di empat kabupaten yaitu Jembrana, Buleleng, Tabanan, dan Karangasem.
Anis Merah sering terlihat di kebun-kebun kopi dan hutan (alas gedhe) yang berada di dekat aliran sungai, termasuk sungai-sungai kecil dan di lembah-lembah yang jarang terkena sinar matahari langsung. Meski demikian tidak di semua kebun kopi dan tidak di semua hutan terdapat sarang Anis Merah.
Di beberapa daerah seperti Labuanaji, Telage, Kekeran, dan Pelapuan yang juga terdapat sedikit perkebunan kopi dan di areal berhutan disebelah barat daya Penataranbujak tidak ditemukan sarang Anis Merah. Satu kesamaan yang dimiliki daerah-daerah ini adalah terletak pada ketinggian kurang dari 400 meter diatas permukaan laut.
Menyediakan makanan
Pemeliharaan kambing dan atau sapi di areal kebun kopi secara langsung akan meningkatkan jumlah cacing tanah yang menjadi makanan utama Anis Merah. Penggunaan kotoran ternak sebagai pupuk akan membuat cacing tidak terkumpul hanya disekitar kandang sehingga jumlah cacing dapat meningkat. Pembersihan atau pemotongan rumput dan menggunakannya sebagai penutup tanah dan pupuk hijau juga akan meningkatkan jumlah cacing.
Penggunaan pupuk kandang dan pupuk hijau akan mendatangkan cacing dari kelompok jenis litter feeder atau cacing pemakan bahan organik. Kelompok jenis cacing yang sering juga disebut sebagai “ecosystem engineer” atau pencipta ekosistem ini paling banyak ditemukan di kebun kopi yang memiliki perindang bawah, perindang atas, dan tanaman pencampur lain (Hairiah, dkk., 2004). Sementara itu penggunaan pupuk buatan, terutama urea (dalam bentuk ammonium sulfat dan sulfur coated urea) secara terus menerus selama 20 tahun dapat menyebabkan pemasaman tanah sehingga populasi cacing tanah akan turun dengan drastis (Ma et al., 1990).
Pencangkulan tanah akan membuat cacing-cacing yang berada di dalam tanah atau kelompok cacing pemakan tanah (geofagus) dapat dengan mudah dimakan oleh Anis Merah. Selain itu, pencangkulan juga dapat meningkatkan kegemburan tanah sehingga pergerakan cacing, terutama dari kelompok jenis pemakan bahan organik, lebih mudah mencari makan di permukaan tanah.
Keberadaan aliran sungai dan genangan air di kebun kopi akan menyediakan cacing dari kelompok jenis pemakan tanah basah (limifagus). Cacing dari kelompok pemakan tanah basah inilah yang sering dimangsa oleh Anis Merah di saat musim kemarau.
Keberadaan cacing tanah memiliki peran yang sangat-sangat penting bagi perkebunan kopi. Banyaknya cacing dalam tanah menunjukkan bahwa tanah dalam keadaan sehat. Cacing tanah berperan dalam menurunkan kepadatan tanah. Perilaku cacing tanah yang selalu membuat lobang dalam tanah membuat kandungan oksigen dan air dalam tanah lebih banyak. Selain memproduksi pupuk organik bagi tanaman, cacing juga mendistribusikan pupuk organik ke daerah perakaran tanaman. Kotoran cacing atau yang biasa disebut casting memiliki kandungan C-organik, N-organik, P, Ca dan Mg tersedia lebih banyak, serta memiliki kandungan unsur-unsur yang beracun seperti Mn dan Al yang lebih sedikit dibandingkan kotoran hewan lain. Casting juga mampu melindungi akar tanaman dari serangan jamur fusarium (subowo, 2002www.balitbangdasumsel.net/jurnal/Jurnal_ed_02/daftarisijurnal.pdf?id=00002).
Cara termudah untuk meningkatkan jumlah cacing tanah di kebun kopi adalah dengan menutup tanah di kebun dengan pupuk hijau dan pupuk kandang. Selain itu adalah dengan menghindari penggunaan pestisida (racun serangga) dan herbisida (racun pembunuh gulma) dalam pengelolaan kebun kopi. Menjaga keberadaan perindang bawah dan perindang atas, terutama dadap, lamtoro, dan gamal juga akan menjamin keberadaan cacing tanah di kebun kopi. Mempertahankan Dadap sebagai perindang atas mungkin paling baik bagi tanaman kopi, karena guguran daunnya mampu menekan pertumbuhan rumput gulma dan relatif selalu hijau sepanjang tahun (K.Heyne, 1987). Guna menghindari pohon dadap tumbang, perlu dipertimbangkan untuk mengganti tanaman-tanaman yang telah tua dengan tanaman baru.
Berternak cacing akan sangat membantu petani perkebunan kopi dalam meningkatkan hasil panen kopi. Hasil pertama berupa kotoran cacing sangat baik digunakan sebagai pupuk tanaman kopi. Hasil kedua berupa cacing dapat digunakan sebagai makanan tambahan untuk Anis Merah di saat musim berkembangbiak. Beternak cacing juga tidak membutuhkan biaya dan tenaga yang besar, terlebih dibandingkan dengan keuntungan berlipat yang akan didapatkan.
Salah satu peternak cacing di Bali yang telah berhasil adalah Luh Ketut Kartini, seorang dosen di Universitas Udayana-Bali, yang beternak cacing di rumahnya di Jl. Kargo Sari II, Denpasar – Bali. Hasil ternak cacingnya diolah menjadi kapsul untuk obat berbagai penyakit berat, seperti tipes, hepatitis, dan stroke ringan.
Mengurangi jumlah pemangsa dan penganggu
Mengurangi jumlah pemangsa dengan berbagai cara mungkin dapat meningkatkan jumlah anak Anis Merah yang dapat dipanen. Meski demikian, masing-masing predator sebenarnya juga saling memangsa. Misalnya ular kita ketahui juga sering memangsa tikus, pidit, tupai, dan bunglon. Sementara itu, burung hantu dan bulusan juga sering memangsa ular dan tikus. Hal ini membuat pembasmian salah satu jenis pemangsa justru dapat meningkatkan pemangsaan telur dan atau anakan Anis Merah di kebun. Misalnya ketika jumlah tupai di kebun berkurang sementara jumlah ular tidak berkurang, maka ular akan lebih sering memangsa Anis Merah untuk bertahan hidup. Sama halnya ketika kita membasmi ular, pidit, tikus, dan tupai, maka burung hantu akan kekurangan makanan, sehingga akan lebih banyak memburu anak dan atau telur Anis Merah di sarang.
Melihat kemungkinan ini, maka cara yang paling efektif untuk melindungi anakan Anis Merah dari pemangsa adalah dengan menyiapkan tempat-tempat bersarang yang terlindung dari kemungkinan serangan pemangsa. Cara lain adalah dengan membasmi semua jenis pemangsa secara bersamaan. Misalnya jika kita telah membunuh seekor tupai, atau seekor tikus, atau seekor pidit dan atau dua ekor bunglon maka kita juga harus membunuh satu ular dan satu burung hantu dalam rentang waktu yang tidak jauh berbeda.
Beberapa peneliti burung melaporkan bahwa beberapa jenis burung dari keluarga Cuculidae, seperti Kangkok erasia, Bubut jambul, dan Pied cockoo (di India dan Cina) sering mengganti telur Anis Merah dengan telur mereka, sehingga tanpa sadar Anis Merah akan membesarkan anak burung lain. Meski demikian,keluarga burung Cuculidae ini paling sering menitipkan telurnya pada sarang kedhis pagar-pagar atau prenjak, sehingga tetap menjaga keberadaan burung-burung lain di kebun kopi kemungkinan akan dapat menyelamatkan sarang Anis Merah dari kehilangan telur dan anaknya akibat ulah burung-burung dari keluarga Cuculidae ini.
Pemanenan
Sarang Anis Merah kadang dapat ditemukan di pohon yang tidak jauh dari jalan, tempat orang biasa berlalu-lalang dan di dekat rumah. Anis Merah termasuk burung yang sensitif, sehingga jika terlalu sering dilihat saat masih membuat sarang, maka sarang yang sedang dibangun akan ditinggalkan. Pengecekan kondisi telur dan anakan di sarang lebih baik dilakukan dengan menggunakan kaca.
Di awal musim penghujan atau sebelum bulan Desember, pemanenan dapat dilakukan saat anakan masih berumur dibawah 8 hari. Pada pertengahan musim panen atau setelah bulan Desember, umur yang paling aman untuk memanen anakan Anis Merah di sarang adalah pada umur 8 – 9 hari setelah menetas atau pada umur kemukuas (Box 2.Tahapan umur anakan Anis Merah di sarang). Anakan yang dipanen pada umur lebih dari 14 hari juga sering mengalami kematian karena stress. Umur pemanenan yang tepat akan mengurangi resiko kematian dalam perawatan setelah dipanen.
Tingginya tingkat kematian dalam perawatan setelah dipanen dapat menyebabkan kerugian pada pengecer maupun pengepul. Ketika pengecer ataupun pengepul “berhenti” bekerja, maka ada kemungkinan Anis Merah tidak akan dapat menjadi komoditas ekonomi. Oleh karena itu kerjasama yang baik diantara petani, pengecer, dan pengepul adalah kunci keberlanjutan nilai ekonomi Anis Merah.
Penyediaan cacing disekitar sarang yang telah dipanen dengan menyangkul tanah, memotong rumput, menabur pupuk kandang, dan secara langsung meletakkan cacing dalam wadah tertentu akan mempercepat induk bersarang kembali disekitar sarang yang telah dipanen. Induk akan bersarang kembali satu sampai dua minggu setelah anaknya dipanen.
Kadang induk akan menggunakan kembali sarang lama yang telah dipanen, terlebih jika saat memanen sarangnya tidak ikut kita ambil. Jika induk membuat sarang baru, maka jarak dengan sarang yang telah dipanen biasanya kurang dari 20 meter bahkan kadang hanya tiga sampai lima meter. Dalam satu musim berkembangbiak atau selama musim hujan masih berlangsung, dari satu pasang induk dapat dipanen sampai empat kali meski umumnya hanya dua kali. Jika dari setiap sarang dapat dipanen 3 anakan, maka dalam satu musim penghujan jumlah maksimal anakan yang dapat dipanen dari satu pasang induk adalah 12 anak.
Faktor pendukung penangkaran di alam
Pencurian anakan Anis Merah di sarang, penangkapan indukan dengan jaring, bahkan penembakan masih terus terjadi meski di beberapa Banjar telah dilarang. Semua tindakan tersebut dapat mengancam kelestarian Anis Merah yang pada akhirnya juga dapat mengurangi rejeki. Oleh karena itu semua pihak diharapkan dapat mengambil tindakan-tindakan untuk menghentikan kegiatan-kegiatan yang membahayakan kelestarian kedhis taien sampai tersebut. Jangan sampai kedepan nasib Anis Merah akan sama dengan Jalak Bali atau Curik Bali yang saat ini sudah sangat-sangat langka bahkan ada yang menduga telah punah.
Beberapa petani telah mengamati bahwa setiap tahun jumlah anakan Anis Merah yang dapat dipanen terus menurun. Hal ini karena jumlah anakan yang “lepas” dari sarang dan dapat menjadi indukan baru pada musim berkembangbiak tahun berikutnya sangat sedikit. Dari hasil wawancara dengan beberapa petani dapat diperkirakan bahwa dari setiap seratus anakan yang dapat dipanen, hanya kurang dari sepuluh ekor yang “lepas” atau yang dapat menjadi induk baru di musim berikutnya. Jika diasumsikan dari sepuluh ekor itu dapat menjadi lima pasang induk baru, maka setiap tahun jumlah induk baru yang dapat menghasilkan anakan untuk dipanen hanya lima pasang. Sementara itu, sampai dengan saat ini belum dapat diketahui berapa jumlah indukan yang tidak dapat berkembangbiak lagi setiap tahun. Dari fakta terus menurunnya jumlah anakan yang dapat dipanen, dapat diduga bahwa jumlah indukan yang tidak dapat berbiak setiap tahun jumlahnya lebih banyak daripada indukan baru yang mulai berkembangbiak.
Penegakan peraturan adat
Peraturan adat yang masih dijunjung tinggi merupakan salah satu nilai lebih yang dimiliki oleh masyarakat di Bali. Sangsi atau denda yang diberikan kepada orang yang tertangkap basah mengambil Anis Merah di kebun orang lain terbukti dapat menimbulkan efek jera bagi pencuri. Di daerah Subak Abian Gunung Amerte misalnya, denda bagi pencuri satu sarang anakan anis merah yang tertangkap basah adalah sepuluh ribu rupiah dikalikan jumlah anggota subak, yaitu sebanyak 166 KK. Beberapa Subak yang belum menerapkan peraturan serupa perlu terus didorong untuk menerapkannya.
Keberadaan peraturan adat ini perlu terus didukung oleh semua pelaku perdagangan Anis Merah. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan tidak membeli kedhis taien sampai hasil pencurian. Tanpa adanya peran aktif semua pihak dalam menegakkan peraturan adat ini, maka keberadaan peraturan adat tidak akan dapat mendukung upaya pelestarian Anis Merah.
Menyiapkan Indukan Baru
Rejeki yang kita terima dari Anis Merah saat ini mestinya juga menjadi hak anak-cucu kita. Oleh karena itu sudah sewajarnya jika setiap tahun kita menciptakan indukan baru dengan cara tidak memanen semua sarang yang kita temukan di kebun. Kita dapat meyakini bahwa anakan yang tidak kita panen, tahun depan akan kembali ke kebun kita dan memberikan sebagian dari anaknya untuk menjadi rejeki bagi kita.
Kita dapat belajar dari kegagalan penangkar jalak oren di Klaten. Saat ini beberapa penangkar jalak oren di daerah klaten telah berhenti berproduksi. Hal ini terjadi karena indukan yang mereka miliki telah memasuki masa tidak produktif lagi. Sementara hasil anakan yang selama ini dipanen semuanya telah dijual, sehingga diperlukan modal yang besar untuk mengadakan indukan baru. Pengalaman ini membawa pengetahuan baru bahwa jalak oren dan semua jenis burung tidak sepanjang hidupnya dapat beranak-pinak.
Adanya kekhawatiran bahwa suatu saat harga Anis Merah akan turun, terutama ketika penangkaran dalam kurungan telah berhasil, mungkin dapat dibenarkan. Hal ini terjadi karena para penghobi burung seringkali memilih anakan yang berasal dari burung-burung yang pernah menjadi juara dalam lomba. Meski demikian, sejarah membuktikan bahwa penangkaran dalam kurungan selalu marak ketika jumlah burung yang tersedia untuk dibeli turun drastis. Oleh karena itu, mempertahankan jumlah burung yang dapat dijual dalam jumlah dan harga tertentu setiap tahun akan menjamin bahwa hasil penangkaran dari kebun kopi akan terus dibeli oleh para penghobi burung berkicau. Gejala turunnya jumlah burung dan naiknya harga jual setiap tahun sebenarnya merupakan tanda awal akan turunnya minat para penghobi terhadap Anis Merah. Oleh karena itu, melestarikan induk dan menciptakan induk-induk baru dengan menyisakan sebagian sarang untuk tidak dipanen akan menjamin jumlah burung yang dapat kita jual setiap tahun. Dengan demikian, kekhawatiran akan turunnya harga Anis Merah juga dapat kita abaikan. Tentunya kerjasama yang baik antara petani dan para pelaku jual-beli anakan Anis Merah juga harus dijaga dan ditingkatkan.
Menjaga Burung Lain
Belajar dari pengalaman kedis taien sampi, menjaga keberadaan semua jenis burung yang saat ini hidup di kebun kopi menjadi sangat penting. Jenis-jenis burung yang saat ini belum laku untuk dijual suatu saat mungkin akan laku dijual. Lima tahun yang lalu misalnya, burung kacamata, kolibri atau burung madu, dan cipoh tidak ada yang mau membeli tetapi saat ini mulai banyak diminati oleh para penghobi burung berkicau. Biasanya, minat terhadap jenis burung tertentu akan meningkat tajam ketika jenis burung tersebut mulai dilombakan. Sampai saat ini masih sangat sulit memprediksi waktu suatu jenis burung akan memiliki nilai jual. Oleh karena itu mempertahankan jenis-jenis burung lain yang ada di kebun kopi kita adalah pilihan bijaksana karena suatu saat burung-burung ini juga akan memberikan rejeki bagi kita, selain Anis Merah.
Penutup
Hanya ketidak-pastianlah yang dapat kita pastikan di dunia ini. Terlebih dalam hal rejeki atau pendapatan. Meski demikian, setiap manusia mendapat karunia berupa tenaga dan kemampuan berfikir. Kedua karunia itu menjadikan manusia punya kuasa untuk berusaha meraih rejeki atau mengusahakan pendapatan. Besar-kecilnya rejeki yang kita terima, menjadi kuasa Parama Atma yaitu Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa untuk memutuskan.
Mendapatkan Anis Merah juga merupakan rejeki, tambahan pendapatan bagi pengelola kebun kopi yang menepati jadwal pemangkasan perindang bawah, mempertahankan perindang atas, memotong rumput pengganggu, memupuk kopi dengan pupuk kandang, dan menyisakan beberapa sarang untuk regenerasi indukan.
Buku kecil ini ditulis sebagai hasil interaksi dengan beberapa petani perkebunan kopi di Bali. Pengetahuan yang ada pada setiap individu ini kami kumpulkan dan kami rangkai sehingga tercipta sebuah pengetahuan. Kami hanya menjahit pengetahuan ini menjadi satu, namun pengetahuan yang tertuang dalam buku ini seutuhnya milik masyarakat petani kopi di Bali.
Semoga pengetahuan ini dapat menjadi salah satu jalan menuju jagadhita (kemakmuran dan kebahagiaan setiap orang, masyarakat, maupun negara). Semoga burung anis merah yang telah memberikan rejeki tambahan ini juga tidak menjadi punah di kemudian hari, sehingga anak-cucu kita kelak juga dapat menikmati rejeki yang diberikannya.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;