Sabtu, 08 Oktober 2011

Menyiasati volume suara burung “lemot” agar menonjol di lapangan


burung murai batuBeberapa waktu lalu saya diajak teman melatih burung murai batu di latihan bersama yang digelar secara rutin di lapangan KNPI Sragen. Volume suara burung murai yang dibawa Om Anto Colomadu tersebut pada dasarnya biasa-biasa saja, bahkan bisa dikategorikan “lemot” alias lemah. Namun dalam latberan tersebut, burung tersebut mendapat koncer A penuh. Di arena lomba Sabtu-an yang digelar IKPBS di Balekambang, burung itu pun pernah koncer A (juara 1) dan koncer C (juara 3). Mengapa burung bersuara lemot bisa juga mendapat gelar jawara? Apa rahasianya?
Meski bervolume lemot, ternyata burung itu memiliki senjata andalan suara “kre… kekekekeke… krek… kreeeeeek….” yang panjang-panjang dan sering kali disuarakan ketika bertempur dengan lawan. Suara itu hampir mirip suara sresetan panjang cucak jenggot tetapi lebih menyengat dan tajam.
Suara itu jarang sekali keluar ketika burung tersebut sendirian atau hanya diadu dengan beberapa burung. Suara tonjolan hanya keluar ketika ditarungkan dengan burung dalam jumlah relatif banyak.
Saya pun pernah melihat burung murai batu yang sebenarnya volume suaranya biasa-biasa saja tetapi bisa menonjol di lapangan beberapa tahun yang lalu. Kalau saya tidak salah ingat, nama murai batu tersebut adalah “Borobudur” milik New Armada Team. Senjata andalannya adalah suara cricitan lovebird yang melulu ” cit…cit…cit” bukan suara “kekekan” sebagaimana selama ini banyak dimasterkan penghobi untuk burung-burung kicauan.
Perlu kesabaran
Dari kasus burung murai batu milik Om Anto tersebut, ada satu pelajaran yang bisa dipetik, khususnya dalam menyiasati lomba burung dengan pola penilaian saat ini. Isilah atau masterlah burung Anda dengan senjata andalan berupa jeritan-jeritan panjang.
Masalahnya adalah seberapa besar kesabaran Anda untuk bisa melatih burung bisa bersuara seperti itu. Pasalnya, pemasteran bukanlah pekerjaan mudah. Harus dilakukan dalam rentang waktu yang panjang dan hasilnya mungkin baru bisa dituai berbulan-bulan setelah itu.
Banyak penghobi yang baru memaster burung selama sebulan dua bulan, tetapi langsung ingin melihat hasilnya. “Sudah saya master selama sebulan loh, tetapi kok belum terdengar juga hasil masterannya ya?” begitu pertanyaan yang sering disampaikan kepada saya.
Perlu diingat, tidak ada hal yang instan dalam berhobi burung. Demikian pula dalam memaster burung. Perlu waktu berbulan-bulan, bahkan tahun.
“PR” berikutnya adalah bagaimana merawat burung agar bisa tampil prima dan mampu mengeluarkan tonjolan selama dilombakan. Apakah staminanya terjaga? Apakah sudah kecukupan ekstra food-nya? Apakah sudah bebas gangguan parasit yang sering membuat burung hanya terlihat gelisah di lapangan? Untuk hal ini, silakan lebih lanjut referensinya di artikel Burung Jawara.
Demikian teman-teman, sedikit cerita tentang burung lemot tetapi juara. Semoga bermanfaat. Salam jawara, salam dari Om Kicau.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;