Selasa, 09 Agustus 2011

Cara melatih burung agar tidak demam panggung

Burung demam panggung, pernah saya sampaikan di blog ini. Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel tersebut. Oleh karena itu, sebelum membaca artikel “cara melatih burung agar tidak demam panggung” ini, ada baiknya Anda membaca artikel “Demam panggung burung lomba dan beta-blocker, apa itu?” terlebih dahulu.

Oke, sebagaimana saya sebutkan dalam artikel demam panggung tersebut, cara untuk menghilangkannya secara benar tidak ada lain kecuali dilatih dan dilatih. Masalahnya, bagaimana melatih burung agar tidak demam panggung atau kalau masih sering demam panggung, bagaimana membuat dia sedikit demi sedikit bisa tampil percaya diri di arena lomba?

Berikut ini tips dari saya berdasar pengalaman selama ini, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman teman-teman penghobi burung lain.

1. Dimulai sejak awal

Untuk melatih burung agar tidak demam panggung, Anda harus melatihnya sejak awal.

Jika itu burung tangkapan hutan, Anda harus benar-benar sudah menjinakkannya terlebih dahulu. Jinak di sini artinya adalah tidak takut dengan manusia dan bukan berarti cuma diam atau mendekat ketika tangan kita masuk ke sangkar. Sebab, banyak burung yang sudah tidak takut manusia sejak lahir (seperti kebanyakan burung hasil tangkaran) tetapi tetap tidak jinak dalam arti mudah ditangkap ketika di dalam sangkar.

Sebelum burung Anda bebas dari rasa takut kepada manusia, jangan berharap burung mau berkicau apalagi gacor. Jadi untuk burung tangkapan hutan, Anda tidak perlu pusing-pusing dengan masalah ekor yang rusak atau paruh yang luka dan sebagainya. Yang penting dijinakkan dulu.

Kalau Anda berpikir “jinaknya nanti saja yang penting bunyi dulu”, maka Anda akan cenderung menyimpan burung bakalan hutan di tempat sepi dengan harapan dia mau bunyi. Oke, burung mungkin bisa segera bunyi, tetapi akan segera membisu ketika orang datang. Lama-lama memang akan tetap bunyi ketika orang datang, tetapi pasti akan tetap gerabakan ketika sangkar diturunkan atau burung digantang di halaman rumah yang banyak orang berlalu lalang.

Untuk itu, biasakan burung “selalu berada di keramaian” atau tempat orang berlalu-lalang.

Kalau Anda khawatir burung “babak bundhas” penuh luka karena menabrak-nabrak jeruji sangkar, gampang saja caranya untuk mencegah hal itu. Bagaimana? Cari kain dari kaos yang transparan dan dibikin sebagai kerodong dengan ukuran yang span (tepat/pas) melingkari seluruh bagian sangkar mulai dari tengah (tangkringan) sampai ke sisi atas dan juga bagian atas sangkar.

Dengan kerodong model seperti itu, meski burung gerabakan, maka dia tidak akan terluka pada bagian pangkal paruhnya. Sedangkan kerusakan bulu juga bisa diminimalisasi.

Saya dulu malah lebih ekstrem, yakni dengan cara membalut semua bagian sangkar atas dengan plastik mika tipis dengan cara saya jahit bagian-bagian tertentu agar menempel tepat di sangkar.

Dengan balutan plastik mika yang ketat ke sangkar ini, disertai cara-cara menjinakkan burung yang saya sebutkan di artikel Cara menjinakkan burung, maka hanya dalam waktu 2 pekan burung anis merah atau anis kembang tangkapan hutan biasanya sudah tidak gerabakan ketika didekati orang. Hanya dalam waktu sebulan, burung yang semula giras, sudah mau angkat bunyi. Coba saja terapkan dengan konsisten, Anda akan melihat sendiri hasilnya.

2. Jaga konsistensi (konsisten ditempatkan di area lalu lalang orang)

Burung yang awalnya jinak atau tidak takut orang, jika terlalu lama disimpan di tempat sepi atau hanya sesekali ditempatkan di keramaian, akan menjadi liar kembali. Hal ini banyak terjadi pada burung anis merah.

Burung anis merah trotol yang sudah tidak gerabakan ketika tangan kita masuk ke sangkar, atau karena memang dipelihara sejak burung masih diloloh/disuapi manusia, akan menjadi liar atau mudah takut orang jika sering ditempatkan di tempat sepi. Oleh karena itu, Anda harus konsisten meletakkan sangkar burung di lingkungan yang banyak lalu lalang orang.

Jika rumah Anda pada dasarnya sepi, maka Anda perlu menyempatkan diri secara rutin membawa burung itu ke keramaian. Bisa diajak ke rumah tetangga atau ke rumah teman ketika Anda berkunjung untuk sekadar bersilaturahmi. Yang penting, burung terbiasa juga untuk dibawa kemana-mana.

Bisa juga ketika Anda melombakan burung atau nonton lomba burung, burung Anda yang “belum jadi” atau sedang dalam “masa pelatihan” dibawa serta ke lingkungan lomba, untuk sekadar di gantang di lingkungan lomba yang tentu saja ramai orang.

Intinya, dilatih secara konsisten bagaimanapun caranya dan Anda (atau minta bantuan teman) perlu menyempatkan diri.

3. Ikutkan latihan secara berkala dan terukur

Kalau burung Anda sudah jinak dan gacor tetapi selalu saja membisu ketika berada di arena lomba, maka Anda harus terus melatihnya dengan mengikutkan pada latihan rutin di tempat Anda.

Hanya saja perlu saya tekankan, jangan pernah mengikutkan burung dalam latihan dengan banyak lawan dan penonton kalau kondisi fisik burung tidak benar-benar siap. Bukannya bebas demam panggung yang didapat burung tetapi burung drop mental yang kita dulang. Untuk menjaga kondisi fit, tentu saja lakukan perawatan yang baik dan konsisten, serta jaga vitalitasnya dengan produk yang teruji, hehehe.

Jika burung tidak dalam kondisi fit, cukup Anda bawa saja ke sana untuk digantang di luar arena. Yang panting dia terbiasa dengan keramaian orang.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
;