Tampilkan postingan dengan label murai batu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label murai batu. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 08 Oktober 2011 5 komentar

Suara isian “wajib” dan “haram” untuk memaster burung murai batu



Berikut ini saya sampaikan lagi tips pemasteran untuk burung murai batu yang ditujukan untuk lomba. Pada lain kesempatan saya akan menuliskan tips untuk burung-burung jenis lainnya.
Saya tegaskan untuk lomba, sebab kalau saya sendiri kurang cocok dengan pemasteran model ini. Alasannya sederhana, saya memelihara burung bukan untuk saya persembahkan kepada juri, tetapi saya persembahkan kepada diri sendiri.
Referensi artikel ini adalah artikel saya yang berjudul Variasi lagu dalam lomba cuma OMONG BESAR… NONSENSE….
Tips secara umum:
1. Selama masa pemasteran, perkenalkan burung murai batu DENGAN SEGALA MACAM suara masteran. Baik suara burung, suara binatang lain, suara mobil, suara motor, suara klotekan alat-alat rumah tangga dan sebagainya. Ya inilah mengapa saya menyediakan banyak sekali suara isian di blog ini. Untuk kondisi harian, saya tetap MEREKOMENDASIKAN suara dari CD atau FlashDisk Natural Therapy Plus (NTP) produk smartmastering.com.
2. Pada saat yang berbeda pada hari pemasteran itu, ambil waktu terpanjang untuk memasterkan “HANYA SATU SUARA KHUSUS” yang biasanya bisa dibawakan panjang-panjang oleh burung murai batu (lihat juga karakter suara burung dan pola pemasteran pada artikel-artikel pemasteran sebelumnya).
SUARA KHUSUS yang akan dijadikan suara dominan pada murai batu yang akan kita master, saya pilih berdasar kondisi lomba dan penilaian saat ini, yang perlu disesuaikan dengan jenis burung isian atau jenis suara masteran dan bagaimana mereka biasanya dibawakan murai batu di arena lomba:
Suara wajib untuk isian burung murai batu (PILIH SALAH SATU SAJA UNTUK JADI SUARA DOMINAN) dengan asumsi “suara panjangnya” bukan suara angkatan dari burung:
1. Lovebird.
2. Cililin.
3. Kenari.
4. Pelatuk.
5. Cucak jenggot
Suara “abu-abu”, kandang berdampak bagus, kadang bedampak negatif:
1. Suara burung serindit, bagus untuk menajamkan suara, tetapi ketika burung murai membawakan suara burung serindit, tidak mudah terpantau karena biasanya paruh tidak membuka dan tidak bergaya/ ngeplay.
2. Suara burung gereja, bagus jika yang direkam dan disuarakan murai batu adalah suara ngerol nrecetnya. Jelek kalau yang terbawakan hanya suara crek-crek awalnya.
3. Suara burung tengkek, kalau hanya dibawakan pendek, suara burung murai terdengat jelek di areba lomba. Kalau bisa membawakan ngerolnya kekekekek tengkek panjang, ya bagus.
4. Suara burung elang, bagus kalau bisa panjang berulang. Bisa membuat grogi burung lawan. Jeleknya, suara dinilai “tidak indah” di telingan juri.
5. Suara burung parkit, bagus jika trecetannya yang terekam. Jelek kalau suara patah-patah yang terekam dan disuarakan murai batu.
6. Dan beberapa suara burung atau hewan lain yang kadang ada trecetan panjang tetapi kadang pendek-pendek.
Suara “HARAM” untuk isian burung murai batu:
1. Suara burung prenjak (padahal kalau murai batu menyuarakan suara prenjak saya paling suka. Sayangnya, tidak akan menonjol atau disukai di arena lomba).
2. Suara patah-patah jalak suren (tajam sih tajam tetapi tidak menonjol karena jarang disuarakan secara panjang-panjang apalagi ngerol).
3. Suara patah-patah jalak kebo (wah janganlah).
4. Suara burung cucakrowo (ini apalagi, meski kadang suara cucakrowo tidak akan keluar ketika murai batu dilombakan).
5. Suara patah-patah/angkatan ciblek.
6. Suara patah-patah asli anis kembang.
7. Suara patah-patah aseli anis merah.
8. Suara burung kutilang.
9. Suara aseli burung cucak hijau.
10. Suara burung trucukan.
11. Suara ayam.
12. Suara siulan manusia.
13. Suara aseli burung kacer.
14. Suara blackthroat (jarang murai batu bisa sukses ngerol menirukan blackthroat).
15. Suara helda sanger.
16. Suara burung betet.
17. Suara aseli burung beo.
18. Suara perkutut.
19. Suara derkuku.
20. Suara kucing.
21. Suara anjing.
22. Dan semua suara yang sifatnya monoton pendek-pendek apalagi dengan frekuensi rendah (contoh mudah suara burung perlutut).
Nah, PERTANYAANNYA ADALAH mengapa kalau saya menyarankan burung perlu punya suara dominan kok harus dimaster dengan aneka suara burung sebanyak-banyaknya? Apakah malah tidak membuat burung jadi “bodoh” untuk memiliki satu suara dominan?
Jawabannya kembali kepada persoalan lomba burung. Ya di arena lomba, banyak sekali burung yang hanya terlihat bengong padahal tidak mbalon atau tidak terlihat takut. Inilah. Burung pun suka belajar untuk menirukan suara-suara asing yang dia dengar.
Kalau burung Anda “kurang piknik” dengan tidak banyak diperkenalkan dengan lagu dan jenis suara yang banyak dan variatif, dia akan menjadi “pendengar yang baik” di arena lomba. Artinya burung Anda hanya akan mencoba mendengar dan merekam suara-suara asing yang baru didengarnya, alias membungkam  saja.
Lain masalahnya kalau burung Anda adalah burung istimewa, yakni bisa menirukan seketika suara-suara yang baru didengarnya, maka dia akan  membuntuti lawan dengan suara yang justru dia tirukan dari lawan. Istilah jawanya adalah “numpangi”. Burung yang bisa “numpangi” suara lawan adalah burung istimewa dan biasanya suara tumpangannya justru lebih panjang dan bertenaga ketimbang burung lawan yang saat itu sedang menjadi “gurunya”.

Oke. Demikian tips pendek ini semoga bermanfaat. Dan lebih dari itu jangan lupa membaca artikel Rahasia Burung Jawara.
Senin, 26 September 2011 2 komentar

MURAI BATU BORNEO






Murai Batu yang dalam literatur ilmiah dinamai copsychus malabaricus dan oleh orang Eropa biasa disebut white rumped shama secara global penyebarannya sangat luas, mulai dari India, China Barat Daya, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia hingga Sunda Besar. Di Indonesia burung yg termasuk dalam rumpun Turdidae ini banyak sekali jenisnya yang di kalangan hobbiest dibedakan berdasar daerah asal habitatnya.

Murai Batu Borneo adalah salah satu jenis yang dikenal di Indonesia selain Murai Batu Sumatera dan Murai Batu Jawa (Larwo). Murai Batu Borneo adalah sebutan kicau mania terhadap spisies murai batu yang berasal dari Pulau Kalimantan. Seperti Murai Batu Sumatera, Murai Batu Borneo juga banyak jenisnya. Walau pun banyak jenisnya tetapi secara umum dikenal tiga jenis Murai Batu Borneo yaitu Murai Batu Palangka, Murai Batu Banjar & Murai Batu Mahkota (Kepala Putih). Karakteristik Murai Batu Borneo yang sangat mudah dikenali adalah gayanya yang khas pada saat tarung, yaitu dada membusung dengan bulu dada yang mengembang, kepala yang menengadah ke atas lalu membungkuk ke bawah yang kadang dengan gerakan cepat tetapi juga kadang-kadang bergerak lambat.

Daerah Sebaran Murai Batu Borneo
Secara garis besar daerah sebaran Murai Batu Borneo adalah seperti gambar berikut.



Murai Batu Palangka yang oleh kicau mania di Kalimantan sering juga disebut Murai Kalteng habitatnya tersebar di wilayah Kalimantan Tengah hingga Kalimantan Barat.

Murai Batu Banjar dapat ditemui di wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Murai Batu Mahkota (white crowned shama) tersebar dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan bagian Utara (Malaysia).


Typical Murai Batu Borneo

1. Murai Batu Palangka



Murai Batu Palangka secara fisik identik dengan Murai Batu Lampung. Mungkin akibat kemiripan secara fisik itulah, murai batu jenis ini pernah ditangkap secara besar-besaran untuk dikirim ke Pulau Jawa dan Lampung. Sebenarnya murai batu jenis ini jika dilihat secara fisik banyak juga ragamnya, baik gradasi warna bulu, warna kaki & panjang ekornya.
Secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut :
Body : Sedang dengan bentuk agak memanjang.
Panjang Ekor : 15 sampai 18 cm.
Warna Bulu Dada : Coklat hingga Coklat Tua.
Warna Kaki : Hitam Pekat, Coklat Kehitaman (warna tanduk), Coklat Kemerahan & Putih Kekuningan.
Gaya Tarung : Seperti Typical Murai Batu Borneo jenis lainnya, Murai Palangka juga akan mengembangkan bulu dadanya pada saat tarung. Tetapi tidak seperti Murai Batu Banjar, murai batu jenis ini hanya mengembangkan bulu dada bagian perut sampai batas dada (sedikit di bagian dada).

Murai Batu Palangka Koleksi Teman


2. Murai Batu Banjar



Murai Batu Banjar inilah yang biasa dicari hobbiest untuk dilombakan, karena sifat fighter-nya yang sangat tinggi. Sama halnya dengan Murai Batu Palangka, sebenarnya Murai Batu Banjar yang oleh warga setempat biasa disebut "Tinjau Karang" ini juga banyak jenisnya. Warna bulu dada, warna kaki & panjang ekor berbeda-beda antara satu habitat dengan habitat yang lain. Secara umum perbedaan murai batu banjar dengan murai batu palangka adalah warna bulu dadanya cenderung lebih cerah dan ekor yang lebih pendek dari Murai Batu Palangka. Panjang ekor murai jenis ini rata-rata antara 10 sampai 13 cm dan ada murai batu banjar dari daerah tertentu yang memiliki ekor rata-rata 15 cm.

Secara garis besar typical murai batu banjar dapat digambarkan sebagai berikut :
Body : Kecil, Sedang sampai Besar
Panjang Ekor : 10 sampai 15 cm.
Warna Bulu Dada : Coklat hingga Coklat Terang
Warna Kaki : Hitam Pekat, Coklat Kehitaman (warna tanduk), Coklat Kemerahan & Putih Kekuningan.
Gaya Tarung : Pada saat tarung murai ini akan mengebangkan semua bulu dada warna coklatnya hingga ke batas leher, sehingga sepintas terlihat menyerupai bola tennis.

3. Murai Batu Mahkota



Murai Batu Mahkota (Kepala Putih) yang habitatnya mulai Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara (Malaysia) ini sebenarnya sangat mirip dengan murai batu banjar. Kecuali celeret putih pada kepalanya secara keseluruhan murai batu ini identik dengan murai batu banjar, baik postur tubuh, warna dada, gaya tarung hingga sifat fighternya yang tinggi.

Gambaran umum murai batu mahkota sebagai berikut :
Body : Kecil, Sedang.
Panjang Ekor : 10 sampai 13 cm.
Warna Bulu Dada : Coklat hingga Coklat Terang
Warna Kaki : Hitam Pekat, Coklat Kehitaman (warna tanduk) & Coklat Kemerahan.
Gaya Tarung : Seperti murai batu banjar, pada saat tarung murai ini juga mengebangkan semua bulu dada warna coklatnya hingga ke batas leher hingga membentuk bulatan.

Koleksi kancil 650
Tawau - Sabah - Malaysia



Video MB Mahkota koleksi om kancil 650
http://www.youtube.com/watch?v=PeFEzXhy_Jg
http://www.youtube.com/watch?v=nYPCuaEkDrs


Koleksi
mahdi dzaqi
Pontianak - Kalimantan Barat









Murai Batu Mahkota in Action
http://www.youtube.com/watch?v=hMG0K0wAVd0

Murai Batu Banjar Si Raja Kontes ?
Saya sering membaca tulisan yang menyebut bahwa "Murai Batu Banjar adalah murai borneo yang sering merajai kontes-kontes kelas murai borneo di Kalimantan". Benarkah demikian? Untuk sementara saya tidak menolak pendapat tersebut. Sejauh lomba-lomba yang pernah saya ikuti khususnya di Kalsel, Kaltim & Kalteng memang demikian adanya. Bukan berarti murai borneo jenis lain tidak prospek, tetapi sejauh ini jawara yang sering moncer pada lomba di wilayah tersebut adalah dari jenis murai batu banjar.
Kalau melihat dari daya tarung, secara pribadi saya juga tertarik dengan murai batu mahkota (kepala putih). Dari yang pernah saya rawat dan pantauan terhadap murai batu mahkota milik teman, jenis ini memiliki daya tempur yang sangat tinggi dan kerjanya ngedur.

Si Pitung (salah satu MB Borneo terbaik Kaltim)
Koleksi edy_u2007
Bontang - Kalimantan Timur
Jenis : MB Banjar




Tips Memilih Murai Batu Borneo

Warna bulu dada
Pilih warna bulu dada yang coklat muda, lebih terang/muda lebih baik. Kalau ada yang supak (agak keputihan tetapi bukan blorok) lebih baik lagi. Murai batu borneo dengan warna-warna bulu dada seperti tersebut rata-rata memiliki sifat fighter yang tinggi dan kerjanya ngedur.

Warna kaki
Dari variasi warna kaki murai batu borneo yang pernah saya temui, skala prioritas memilih murai batu borneo melihat dari warna kaki adalah :
(1) Coklat Kehitaman (warna tanduk),
(2) Hitam Pekat,
(3) Coklat Kemerahan
(4) Jangan Pilih yang Putih Kekuningan, karena selain belum pernah melih yang jenis ini moncer di kontes, saya juga pernah merawatnya dan hasilnya menurut saya sangat mengecewakan. Mental serta daya tarungnya kurang serta terlalu lambat untuk jadi.

Panjang ekor
Pilih ekor yang agak pendek, dari 13 s.d. 10 cm

Bentuk kepala
Utamakan memilih kepala yang berbentuk papak

Mata
Pilihlah yang memiliki tatapan tajam dan mata tidak terlihat sayu.

Bukaan paruh

Pada saat berkicau perhatikan intensitas bukaan paruhnya. Pilih yang bukaannya lebar, biasanya saat tarung akan mengeluarkan tembakan dengan full power.

Bentuk leher
Carilah yang mempunyai leher yang agak besar, ini biasanya menunjukkan besarnya volume suara yang dapat dikeluarkan.

Selain hal-hal tersebut di atas, secara umum pemilihan murai borneo berbakat sama dengan ulasan-ulasan pada thread yang membahas permasalahan cara memilih murai batu berbakat.

Karakter suara murai batu borneo
Karakter suara murai batu borneo adalah ngebass dan monoton? Ini tidak benar. Dengan perawatan yang benar, pemilihan masteran tepat & proses mastering yang intensif, murai borneo akan memiliki suara/lagu yang berkualitas.
Karena kebanyakan murai borneo bertype nembak-nembak, pilih masteran utama dengan type nembak seperti cililin, LB, pelatuk, belibis, dll.

Murai Borneo Supak

Karena sulit menemukan istilah yang tepat, saya pinjam nama warna supak (yang saya yakin beda dengan supaknya MB Sumatera) untuk menyebut murai borneo yang warna bulu dadanya sangat muda dan agak keputih-putihan tetapi bukan blorok. Murai borneo dengan warna ini memiliki mental yang luar biasa. Saya pernah merawat serta melombakannya pada umur belum 1 tahun dan moncer ke-3 (sayang umurnya tdk panjang). Murai borneo seperti ini sekarang memang sangat sulit ditemukan, tetapi masih ada. Sebenarnya warna seperti ini bukan kelainan dan memang ada jenisnya. Di wilayah hutan tertentu di pegunungan meratus memang memiliki murai batu dengan warna seperti ini. Hampir semua murai batu dari daerah tersebut baik jantan atau betina memiliki warna bulu dada sangat muda dan berkaki hitam.

Pola Ekor Murai Batu Borneo

Pola ekor MB Borneo adalah terdiri dari 6 pasang (12 helai) bulu, dengan 2 pasang bulu hitam dan 4 pasang bulu putih (bulu penyangga).
Bulu ekor putih MB Borneo sendiri banyak polanya, yaitu :

1. Bulu ekor putih polos semua dg semburat hitam pada bagian ujungnya.

2. Bulu ekor putih dg 3 pasang polos dan sepasang (ekor putih terpanjang) berwarna separuh hitam.

3. Empat pasang bulu ekor putih berwarna hitam pada pangkal bulunya.

4. Ekornya berwarna hitam semua.




Sementara itu sharing yang bisa saya sampaikan dan mohon koreksi kalau salah serta harap ditambahkan kalau ada kekurangan. Khususnya rekan KMers Kalimantan serta Owners Murai Batu Borneo umumnya.

Semoga artikel ini dapat menambah wawasan kita tentang murai batu di Indonesia.
Mohon maaf foto dan videonya belum lengkap, kalau ada waktu nanti akan saya lengkapi.
Kamis, 22 September 2011 0 komentar

mental tarung di wariskan ke piyik

Gambar murai ekor pajang penangkaran
bayak pemain mengakui murai ekor pajang yang berasal dari medan punya kualitas lebih di lapangan.rata 2 murai juara didominasi jenis ekor pajang .meskipun ada yang berekor medium,
bisa jadi pencampuran antara ekor panjang medan dan borneo ...
 Gambar Campuran murai ekor pajang n borneo
dominasi ekor pajang di lapangan berdampak pada minat  penghoby burung murai untuk memilih jenis tersebut ,akibat y ,banyak peternak yang lebih memfaatkan basic ekor pajang tersebut .
selain cepat laku juga harga y menggiurkan .tidak saja ketika piyik ,juga di saat tampil di pastikan harga semakin melambung .
tapi para penghoby yang inggin membreeder murai ini di pastikan indukan pernah juara jadi para pembeli sudah tahu asal mulaya piyik tersebut  dan bekualitas...
dengan demikian basic ekor pajang yang dikenal lebih berkualitas di tambah pernah menjuarai lomba di harapkan hasil y nanti tidak saja punya kualitas genetic juga mental tarung yang sama seperti induk y tersebut.dari basic yang terpilih  di harap kan bisa di pakai main.
Hasil ya memang terbukti dan  menjajikan .anakan tersebut sama seperti indukya .dan mudah untuk menerima suara masteran .
Namun beberapa kendala jika memfaatkan basic ekor pajang terlebih lagi eks juara .di antara pejantany lebih cenderung galak .sedikit saja mendengar suara burung sejenis y maka tingkat agresifitasnya langsung meningkat ..
Tidak saja terus bunyi tetapi bisa menyerang pasangan y .begitu juga ketika memasukakan pejatan baru di samping kadang 2yang lain akan bisa mengganggu birahi pejantan yang sudah ada..
Kelebihan y memakai murai basic panjang dan esk lomba ,selain permintaan y sangat tinggi ,anakanya memang di hargai tinggi ..
0 komentar

Murai batu

Murai batu

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

?Murai batu
Murai batu
Murai batu
Status konservasi
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Aves
Ordo:Passeriformes
Famili:Muscicapidae
Genus:Copsychus
Spesies:C. malabaricus
Nama binomial
Copsychus malabaricus
(Scopoli, 1788)
Murai batu (Copsychus malabaricus) merupakan burung kicaupaling populer. Termasuk ke dalam family Turdidae. Tersebar di seluruh pulau SumatraSemenanjung Malaysia, dan sebagian pulauJawa.
Jenis yang dianggap terbaik adalah Murai Batu Medan. Hanya saja tindakan eksploitasi hutan berlebihan dan perburuan untuk kepentingan komersial membuat jenis ini sulit ditemui di pasaran.

Ciri morfologis

Memiliki tubuh hampir seluruhnya hitam, kecuali bagian bawah badan berwarna merah cerah hingga jingga kusam. Terdapat sedikit semburat biru di bagian kepala. Ekor panjang ditegakkan dalam keadaan terkejut atau berkicau.
Murai Batu dari Tanjung Redep, Kalimantan Timur menpunyai keunikan di bagian kepalanya yang bergaris putih memanjang ke belakang. Murai Kalimantan memiliki ekor lebih pendek dengan panjang sekitar 8-12 cm, sementara Murai Batu Sumatra 15-20 cm . Ciri khas lainnya adalah Murai Batu Kalimantan apabila berhadapan dengan jenisnya akan mengelembungkan bulu-bulu disekitar dadanya sambil berkicau.
Badan berukuran 14-17 cm.

Pakan

Makanan umum adalah serangga kecil. Hobiis biasanya memberikan kombinasi pelet, krotojangkrikulat hongkong dan telur lebah. Murai Batu juga memakan poer/voer yang banyak dijual di kios burung.

Seksing

Jantan dibedakan dengan betina dari kicauan yang lebih aktif dan ekor lebih panjang. Jantan tidak bisa menoleransi adanya jantan lain di sekitar wilayahnya. Sementara betina sulit menerima jantan yang tidak dikenal. Biasanya penangkaran dilakukan dengan mengawinkan pasangan dari satu induk (incest).
Namun saat ini banyak pengemar burung berkicau di daerah Jawa sudah mulai berhasil menangkar Murai Batu silangan antara jenis Sumatra (Medan) dengan jenis kalimantan (Borneo)
Senin, 19 September 2011 0 komentar

Pengaruh dan Persyaratan Diet Selama Mabung

Ada dua hal yang diperlukan seekor burung agar proses mabungnya berjalan dengan baik dan sempurna. Pertama diperlukan diet yang baik dan kedua adalah istirahat yang cukup.

Diet

Selama masa mabung ini Murai Batu membutuhkan konsumsi protein dan makanan yang cukup gizi untuk merangsang pertumbuhan bulu baru secara memadai. Sedangkan vitamin dan mineral diperlukan untuk membantu proses pencernaannya. Oleh karena itu, kebutuhan protein yang dibutuhkan seekor burung yang ideal adalah tidak kurang dari 20% agar pembentukan bulu-bulunya dapat tumbuh dengan sempurna. 

Selain itu asupan makanan tambahan seperti multivitamin dan mineral juga harus mencukupi. Sebagai contoh Vitamin B komplek merupakan sesuatu yang sangat penting. Vitamin B6 membantu metabolisme protein dan vitamin B12 membangkitkan nafsu makan burung dan juga membantu pencernaan. Vitamin E membantu serat-serat bulu tumbuh lebih sempurna dan kandungan minyak didalam vitamin tersebut mengkilatkan warna bulu sehingga bulu tampak lebih bersinar.

Idealnya asupan makanan pada saat mabung harus lebih banyak yang mengandung unsur-unsur yang dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan bulu. Asam amino sebagai struktur dasar pembentuk protein dan sulfur yang berisi asam amino methionin dan cistein merupakan substansi penting dalam pembentukan dan perkembangan bulu. Sumber makanan yang kaya protein ini terkandung dalam pakan hidup seperti serangga, karena serangga mengandung sulfur yang berisi asam amino, misalnya: jangkrik, ulat hongkong, ikan-ikan kecil, kecebong, kroto (telur semut) dan belalang.

Jika ditempat anda kebutuhan pakan hidup mudah di dapat, disarankan untuk mengubah setingan pemberian pakan hidup. Untuk masa-masa mabung komposisi pemberian pakan hidup sebaiknya 80% dan 30% untuk pakan kering. Setingan pemberian pakan hidup selama masa mabung hanyalah bersifat sementara saja. Jika masa mabung sudah selesai, pemberian pakan sebaiknya kembali ke setingan awal. (akan dibahas dalam artikel tersendiri). Sementara bagi anda yang susah mendapatkan stok pakan hidup, carilah pakan kering yang memenuhi standar kecukupan gizi sbb: 10% lemak, 0.5% – 1 % kalsium dan 30% - 40% protein. 

Istirahat yang cukup

Selain diet, faktor yang tidak kalah penting adalah pemberian masa istirahat yang cukup. Saat mabung sifat agresifitas burung berkurang. Ini terjadi secara fisiologis karena perubahan pembentukan hormon yang berbeda. Dalam hal ini energi burung lebih difokuskan pada pertumbuhan bulu. Oleh karena itu, agar mabung berjalan secara maksimal, istirahatkan burung dari aktifitas rutin seperti: menjemur dibawah terik matahari langsung atau mengikut sertakan dalam lomba. Usahakan hindarkan konfrontasi dengan burung Murai Batu lain. Ini mutlak harus dilakukan agar burung tidak mengalami stres mabung.

Selain itu, tata letak sangkar juga harus baik. Carilah tempat yang bersirkulasi baik, sehat dan teduh. Jauhkan dari tempat yang bertekanan udara ekstrem, seperti perubahan panas dan dingin secara drastis. Jika burung ditempatkan dikandang yang besar, jauhkan dari gangguan atau kehadiran binatang-binatang pemangsa, seperti: kucing, tikus, ular, tokek dsb, agar masa istirahat tidak terganggu. 

Stres Saat Mabung

Garis Stres

Terkadang kita melihat bulu-bulu pada seekor burung ada yang tumbuh tidak merata. Ada bagian yang tipis atau strukturnya yang tidak simetris. Biasanya pada bulu tersebut timbul semacam garis melintang terutama terlihat pada bagian ekor. Atau warna bulu yang tumbuh terlihat kusam. Hal ini terjadi karena burung kekurangan nutrisi dan kurang istirahat yang cukup. Nutrisi yang dimaksud adalah kurangnya kadar methionin dan cistein yang terkandung dalam protein (serangga).

Jika masa mabung di luar waktu yang seharusnya, burung akan mengalami apa yang di namakan Stres Saat Mabung. Akibatnya bulu-bulu saat rontok atau pada saat tumbuh hanya pada beberapa bagian saja (tidak merata). Biasanya terjadi pada bulu-bulu di bagian dada, dan parahnya jika terjadi pada bagian sayap dan ekornya. Hal yang paling ekstrem jika seluruh bulu yang ada mengalami kerontokan. 

Bulu-bulu terdiri sekitar 20% sampai 25% dari berat tubuh burung dan pergantian bulu diluar waktu mabung berarti bahwa hormon testoteron akan berkurang karena burung akan dipaksa memproduksi hormon yang memicu mabung. Konsekuensinya adalah burung akan mengalami stress. Sedangkan stres yang dialami akan berakibat pada pertumbuhan yang tidak maksimal. Untuk memperbaiki kondisi ini harus menunggu mabung periode tahun berikutnya.

Hal-hal lainnya yang menjadi faktor penyebab stres pada saat mabung, yaitu:

1. Kemungkinan burung melihat atau mendengar suara tikus, tokek, kucing atau gangguan dari makhluk-makhluk lainnya yang mengganggu waktu istirahatnya pada malam hari. Solusinya, redupkan sinar lampu atau ganti bohlam yang tidak terlalu terang, sehingga burung tidak dapat melihat secara langsung makhluk-makhluk pengganggu. Meski burung masih mendengar suara-suara, tetapi dengan tidak melihat wujud makhluk pengganggu secara langsung akan mengurangi kepanikan burung tersebut.
2. Perubahan temperatur yang ekstrem di sekitar area kandang atau sangkar burung. Solusinya, periksa temperatur ruangan dan pastikan suhu dalam ruangan tetap terjaga. 
3. Mendengar suara dari murai batu lainnya. Salusinya, jauhkan burung anda dari gangguan suara sesama burung murai lainnya.
4. Faktor Pemberian Air Minum, Solusinya ganti air minum setiap hari, karena setelah 24 jam kandungan klorin dalam air akan menguap karena pengaruh suhu dan sinar. 
5. Adanya pakan kering (voor) yang tidak/kurang disukai burung, sehingga burung malas makan dan menghambur-hamburkan makanan tersebut. Solusinya, ganti dengan pakan kering jenis lainnya.
6. Khusus untuk burung dalam Sangkar, kebiasaan menggantung sangkar ditempat yang terlalu banyak angin atau ditempatkan di dekat jendela, membuat burung tidak tenang karena temperatur/suhu di dekat jendela sering tidak konstan. Solusinya, carilah/pindahkan ke tempat yang nyaman dan bersirkulasi baik.
0 komentar

SUB SPESIES MURAI BATU (Copsychus Malabaricus)


Pada umumnya hobbies di Indonesia lebih mengenal burung Murai Batu pada satu jenis saja, yaitu sub-spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White-rumped Shama). Sub-spesies ini mempunyai corak tiga warna, yaitu hitam, coklat dan putih. Warna dominan pada kepala, leher punggung dan ekor umumnya berwarna hitam. Warna dada dan perut berwarna coklat, sedangkan punggung bagian bawah (pantat) dan bulu ekor sekunder berwarna putih.

Sub spesies Copsychus Malabaricus Tricolor (White rumped Shama)

Sub spesies ini paling banyak ditemukan di P. Jawa dan P. Sumatera. Karena perbedaan habitat dan letak geografi masing-masing tempat yang berbeda-beda, maka sub spesies inipun mempunyai perbedaan fisik yang mencolok. Untuk Murai Batu yang hidup di Pulau Jawa, masyarakat local lebih mengenal dengan sebutan burung Larwo (Copsycus Malabaricus Tricolor-Javanus). Burung jenis ini sudah diindikasikan sangat langka (mungkin juga sudah punah).

Sementara sub spesies yang hidup disekitar selat sunda, Krakatau, pesisir dan pedalaman lampung, masyarakat mengenal dengan nama Murai Batu Lampung. MB ini mempunyai panjang ekor kira-kira 10 cm – 12 cm. Bagi para hobbies yang sering mengikuti kompetisi burung berkicau, jenis ini kurang diminati. Beberapa beralasan bahwa MB jenis ini bermental rendah dan kicauannya kurang bagus.

MB Lampung
Foto: Murai Lampung

Untuk kepentingan lomba atau kompetisi burung berkicau, para hobbies di Indonesia lebih menyukai MB Jambi. Mereka beralasan selain kemerduan suaranya, burung jenis ini mempunyai stamina dan gerakan ekornya yang indah. Mungkin mereka benar karena struktur tubuhnya yang sedang dengan panjang ekor berkisar antara 14 cm – 17 cm memungkinkan burung tersebut bergerak lincah dan tidak terbebani dengan berat dan panjang ekornya. MB Jambi secara alamiah hidup disekitar Bengkulu, Sumatera Selatan, Jambi, Kepulauaan Mentawai & Siberut serta semenanjung Bukit Barisan.

MB Jambi 2
Foto: Murai Jambi


Jenis lainnya adalah Murai Batu Medan atau Murai Batu Aceh, sebenarnya sebutan MB Medan adalah sebutan untuk MB yang berasal dari Provinsi Aceh dan daerah sekitarnya. Sebutan ini melekat karena pusat perdagangan terbesar dan pengepul ada di daerah Medan, tepatnya Pasar Burung Bintang. Di Provinci ini juga hidup berbagai jenis murai batu yang lainnya, salah satunya adalah MB ekor Hitam dan Jenis ini lainya mempunyai body lebih besar dan ekor yang cukup panjang sekitar 20 cm – 25 cm dan yang mempunyai ekor lebih panjang lagi yaitu sekitar 25cm – 30cm. MB Medan dan MB Aceh sangat diminati, bahkan sudah menjadi hewan peliharaan yang paling favorit. Selain suaranya yang merdu, penampilannya pada saat berkicau sangat atraktif, yaitu kemampuan mengayun-ayunkan ekornya (nge-fl) Meskipun demikian MB jenis ini jarang sekali diturunkan atau dibawa oleh para hobies arena kompetisi. 

MB Medan
Foto: Murai Medan

Jenis Murai Batu lain yang berekor panjang selain ditemukan di provinsi Aceh, juga ditemukan di Penang, Malaysia, Burma, Kamboja, Myanmar dan Thailand. Secara fisik bentuknya sama, perbedaanya barangkali pada tebal tipis ekornya saja. Murai Batu di Malaysia relatif mempunyai ekor yang panjang dan tipis, berpostur agak kecil. Sedangkan Murai Batu yang paling dicarai oleh hobbies dari Singapura dan Malaysia adalah Murai Batu yang hidup diperbatasan Thailand dan Malaysia. Walaupun secara fisik bodynya lebih kecil dari Murai Batu Aceh, tetapi memiliki ekor r yang lebih panjang dan warna hitamnya agak mengkilat dan berwarna indigo (kebiruan). 

Perhatikan dengan seksama perbedaan foto Murai Batu berikut:

Photobucket
Foto: Koleksi David

Photobucket
Foto: Koleksi David

Photobucket
Foto: Koleksi David

MB Thai-Malays
Foto: Koleksi David

Sub –spesies Copsychus Malabaricus Melanurus (Black-tailed Shama)

Sub-spesies ini di Indonesia dikenal dengan sebutan Murai Nias atau Murai Batu Nias, karena populasi dan habitatnya kebanyakan ada di P. Nias dan daerah sekitarnya. Burung ini juga ditemukan disebagian wilayah provinsi Aceh. Selain bersuara merdu, burung ini juga tidak terlalu agresif sehingga bagi para hobbies yang ingin mengembang-biakan burung ini, relatif lebih mudah dibandingkan dengan jenis lain yang mempunyai tiga warna. Hewan ini relatif lebih sayang terhadap anak-anaknya, sehingga jarang ditemukan kasus indukan Murai Nias membunuh anaknya sendiri. 

Berdasarkan hasil observasi di lapangan, burung jenis ini susah sekali ditemukan atau dipelihara oleh para hobies di Indonesia. Hal ini ada berbagai faktor:
1. Faktor Tujuan Kompetisi
Karena sistem penjurian lebih mengedepankan aspek suara dan mental, para hobbies di tanah air, kurang menyukai burung ini karena kurangnya agresifitas pada saat dilombakan, mereka lebih menyukai burung dengan tipe agresif (fighter).
2. Faktor Exodus Perdagangan
Burung jenis ini merupakan burung yang popular dan paling dicari di Malaysia dan Singapura. Karena sistem kompetisi mereka berbeda dengan di Indonesia, minat mereka untuk memiliki sangat tinggi. Hal ini disebabkan burung ini mudah jinak dan bersuara sangat merdu dan variatif, sehingga cocok untuk dijadikan binatang peliharaan dirumah. Hal inilah yang mendorong pedagang dan pengepul burung melakukan ekspor besar-besar ke sana. Harga per ekor untuk ukuran panjang ekor 10cm-20 cm sekitar US$200.00. Bahkan pernah ditemukan ada yang mempunyai panjang ekor 25cm-30 cm, tetapi kualitas suaranya jauh dari yang pertama.

Photobucket
Foto: Koleksi Pribadi

Sub–spesies Copsycus luzoniensis (White-browed Shama)

Habitat ditemukan Philipina

MB coklat hitam putih 

Sub-spesies Copsychus M. Stricklandii (White-capped Shama)

Ada dua jenis. Habitatnya di P. Borneo (Kalimantan-Indonesia), Sarawak dan Sabah (Malaysia).

MB ekor coklat
Ekor Coklat

Dan

Photobucket
Ekor Hitam & Putih

Sub-spesies Copsychus Niger (White-vented Shama)

MB Hitam Putih
Habitat: Sabang, Palawan-Philipina

Sub-spesies Copsycus Cubuensis (Black shama)

MB Hitam Pekat
Habitat: Philipina
0 komentar

Pengaruh Musim Terhadap Pola Hidup Murai Batu.

Photobucket

Siklus kehidupan Murai Batu di alam liar diatur oleh perubahan iklim. Selama musim hujan, dimana air hujan tumpah sepanjang hari, merupakan masa-masa tersulit bagi Murai Batu untuk mencari pakan hidup seperti serangga. Oleh karena itu burung mengatur perkembang biakan dan masa rontok bulu (mabung)-nya pada masa sebelum musim hujan. Karena pada masa-masa tersebut persediaan makanan di alam berlimpah sehingga kebutuhan nutrisi mereka dapat terpenuhi.

Aktifitas perkembang biakan burung-burung tropis, termasuk Murai Batu dimulai pada akhir musim hujan antara bulan Januari dan berlanjut sampai akhir Agustus. Bersamaan dengan perkembang biakan tersebut, burung juga mengalami periode tahunan pergantian bulu yang ditandai oleh rontoknya bulu-bulu lama untuk digantikan dengan bulu-bulu baru (mabung) dan proses ini akan paripurna sebelum musim penghujan mendatang tiba.

Untuk burung-burung peliharaan yang ditempatkan dikandang besar (aviary) untuk kepentingan penangkaran, musim perkembang biakannya kurang dipengaruhi oleh perubahan musim dan cuaca. Karena, kebutuhan pakan sudah terpenuhi secara cukup, meskipun demikian burung mengalami efek depresi dan naluri alamiah saat musim hujan tiba untuk melakukan perkembang biakan. Untuk burung yang ditempatkan disangkar-sangkar gantung sebagai hewan peliharaan ataupun untuk kepentingan lomba, datangnya musim hujan berarti kesempatan untuk mengistirahatkan burung tersebut. Karena pada masa-masa ini, burung mengalami masa mabung yang memerlukan istirahat yang cukup. Kebutuhan istirahat pada masa mabung ini, tidak hanya secara fisik saja tetapi diperlukan istirahat secara mental, agar kelak, bulu-bulu yang tumbuh merupakan bulu-bulu yang tumbuh secara sempurna. Untuk itu jauhkan burung dari rasa stress yang mengganggu dan tutuplah sangkar burung dengan kain yang rapat.
Sabtu, 17 September 2011 4 komentar

Murai Batu Nglowo Penyebab dan Solusinya

MB nglowo beberapa sebab adalah:

1. Over Birahi
Disebabkan oleh kesalahan pola rawatan, juga kesalahan Perawat yang tidak bisa memantau perkembangan MB tsb. Misal MB tsb dikasih EF yang sama continue terus, dalam kurun waktu tertentu MB tsb mengalami Top Performanya, sementara rate EF tetap konstant. Akhirnya efek EF terakumulasi di MB tsb sehingga MB tsb nglowo.

2. Kalah mental/Down
MB nglowo masih muda tapi dipaksakan untuk tarung. Karena MB mengenal sistem Senioritas.

3. Dasar Mental Bawaan
MB tsb memang mempunyai atau dasar mental yang ciut. Sehingga saat ditarungkan dia minder duluan, dan akhirnya nglowo.

Hasil diskusi panjang lebar dengan beberapa pemain MB di lapangan. Dapat saya garis bawahi gimana solusi untuk MB nglowo ini.

Konsep yang untuk segera mengatasi MB nglowo adalah MERUBAH POLA RAWATAN TOTAL. Sebagian penghobiest ada yang menunggu mabung total bahkan sampai 2 kali mabung (lama ya.

Berikut tindakan2 cara mengatasinya, saya percaya setiap penghobiest yg di expert di MB pasti berbeda dan tolong dishare di sini ya.

1. Kurangi EF
Terutama untuk jangkrik. Karena jangkrik ini bisa membikin tenaga yang kuat. Kasih jangkrik 1 saja di saat pagi.

2. Cacing
Cacing kalau untuk AM untuk daya tahan telernya. Namun untuk MB justru untuk MEREDAM birahinya. Pemberian cukup disesuaikan dengan karakter MB. Diberikan setiap pagi dan sore.

3. Kandang Umbaran
Bagi MB nglowo, Kandang Umbaran adalah wajib. Jangan lupa dikasih tempat bak mandi, biar mandi sendiri. 1 hari wajib dikandang umbaran, agar sifat birahinya dikeluarkan semua .... kalau bisa diterbangkan minimal 200 kali selama sehari ...

Itulah sedikit hasil diskusi dengan salah satu penghobiest MB di lapangan, sekali lagi penanganan setiap penghobeist berbeda. Dan tolong dishare di sini.

Sebenarnya MB dialamnya bisa mengatur EFnya sendiri, kapan makan dan kapan berkicau. Bahkan saat MB merasa sakit, si MB ini bisa mencari makanan yang dibutuhkan untuk treatmentnya. Tetapi kalu di sangkar semua kebutuhan dan model rawatan oleh tuannya. Jadi MB tsb NO excuse untuk mengatur dirinya sendiri.
1 komentar

Penyebab murai batu ngebatman

1. Over Birahi
Disebabkan oleh kesalahan pola rawatan, juga kesalahan Perawat yang tidak bisa memantau perkembangan MB tsb. Misal MB tsb dikasih EF yang sama continue terus, dalam kurun waktu tertentu MB tsb mengalami Top Performanya, sementara rate EF tetap konstant. Akhirnya efek EF terakumulasi di MB tsb sehingga MB tsb ngelowo.

Treatment :
Diembunkan setiap pagi.

Kurangi EF, terutama untuk jangkrik. Karena jangkrik ini bisa membikin tenaga yang kuat. Kasih jangkrik 1 saja di saat pagi.


Pemberian Cacing. Cacing kalau untuk AM untuk daya tahan telernya. Namun untuk MB justru untuk MEREDAM birahinya. Pemberian cukup disesuaikan dengan karakter MB. Diberikan setiap pagi dan sore.


Stop EF Sama Sekali. Saya pernah punya mb yg menunjukkan gejala ngelowo / ngebatman, langsung saya stop ef sama sekali kira kira satu bulan. Dan berhasil. Sepertinya mb saya kebanyakan ef.


Kandang Umbaran. Bagi MB nglowo, Kandang Umbaran adalah wajib. Jangan lupa dikasih tempat bak mandi, biar mandi sendiri. 1 hari wajib dikandang umbaran, agar sifat birahinya dikeluarkan semua dan kalau bisa diterbangkan minimal 200 kali selama sehari.


Alangkah baiknya si MB di umbar di kandang umbaran dan di simpan di luar (tdk tertutup). Sehingga setiap pagi terkena embun.


Kurangi EF hariannya yg biasanya pagi/sore 3 jangkrik jadi 1 jangkrik. Kroto yg biasanya seminggu 3 kali 1 sendok menjadi seminggu sekali 1 sendok.


Kalau biasanya pagi jemur 2 jam + sore jemur 1 jam menjadi cukup pagi jemur 1 jam.


Mandi malam antara jam 8 s/d 10 malam, angin2kan kurang lebih 1/2 jam langsung krodong.


Dan saat akan latihan/lomba hari minggu hari sabtunya pagi kasih EF 5 s/d 7 jangkrik dan tidak usah dimandikan.


Pada saat latihan/lomba di hari minggunya sekitar 20 menit sebelum di gantang diseprot jangan terlalu basah langsung kerodong.


Jangan dimandikan dihari H-1 dan hari H. Saya dulu punya jagoan yg dibeli pada kondisi mabung. Setelah kelar mabung dan 2 bulan nuain bulu sambil dilatih, namun ketika dibawa ke latber langsung ngebatman. Penasaran 2 minggu jajal lagi tdk ada perubahan. Setelah kurang lebih ada 3 bulan dicoba cari solusinya dan dari berbagai percobaan yang saya praktekkan ternyata saya temukan maunya ni MB. Ternyata dia dihari h-1 dan hari h ga boleh mandi. Kalau mandi pasti kumat ngebatmannya.

2. Kalah Mental/Down
MB ngelowo bisa disebabkan MB yg masih muda tapi dipaksakan untuk tarung. Karena sebenarnya MB mengenal sistem Senioritas.

3. MB yang Sedang Dorong Ekor (belum tuntas mabung) di Trek dengan MB yang Mentalnya OK
MB yang sedang dorong ekor/belum tuntas mabung jika di trek dengan MB yang mentalnya OK bisa menimbulkan sifat ngelowo. Pada awalnya MB yang belum tuntas mabung mungkin mau main ngeplay dan mengeluarkan semua isiannya. Tapi setelah itu langsung ngebatman dan bulunya juga ikut berdiri (seperti kacer bagong). Intinya, jangan pernah memaksakan MB yang belum tuntas dorong ekornya untuk ditrek. Hal ini akan menyebabkan MB ngelowo. Karena kita kurang sabar dan terlalu memaksakan diri, akhirnya MB kesayangan yang jadi korban.

4. MB yang Baru Selesai Mabung
MB2 yang baru kelar mabung memang suka galak. Sementara kondisi fisik belum siap 100 % dan libido/ birahinya belum naik (ditandai dgn gacor tanpa musuh). Nah kalo dipaksakan biasanya suka ngelowo.

5. MB yang Terlalu Dipaksakan untuk Terus Fight
Pada saat titik top formnya mulai menurun (mendekati masa mabung) sering kita "sengaja" ngetrek MB yg mulai jatuh bulu dengan harapan agar proses rontok menjadi lebih cepat & ternyata "memang banyak" yg berhasil.
Tapi apa pernah kita perhatikan, efeknya disaat mabung atau setelah mabung? Hal-hal yang demikian juga akan menyebabkan MB menjadi tidak/sulit mencapai top form lagi, atau malahan jadi Batman.

 
;